hujan di Aas

November 13, 2005

hujan…
kerap datangmu buatku sebal
tapi, eh, hujan..

-

tolong bawa rindu ini
meresap ke tanah
mengalir bersama, bergemericik ceria,
di perjalanan indah ke laut
dimana akan dibawanya ke angkasa oleh mentari
rinduku hari ini
dan rinduku hari - hari kemarin
bersama bulir-bulir rindu lain yang mengawan

-

maka jangan sedih
jangan pula menangis
karena akan kaudapati rinduku itu
sebagai embun pagi di ujung dedaunan
esok pagi

-

*dalam syukur yang semoga takkan pernah putus*

alif,13112005,22:31

6 Responses to “hujan di Aas”

  1.   -Mutia- said:

    apakah rindu hanya tetesan air yang menempel di kaca jendela?
    bisakah ia berakhir saat hujan berhenti??

    to: Alief, dibutuhkan sedikit keberanian serta kenekadan untuk mewujudkan sesuatu….

    syair itu ditulis utk lelaki kabut, tp, kayaknya cocok juga buat alief…

    AJA2 FIGHT!!!

  2.   Alif said:

    ah mut, ini tidak seperti yang kamu pikir. hanya memuaskan sisi romantisme diri aja. lelaki kabut? apa itu? lelaki kalut kali?

  3.   Bagus said:

    oalah
    ndilaalah gay
    puisine ngono

  4.   Halida said:

    setuju aja deh sama mas bagus :) :) :) :) (eits, mboten pareng nesu)

  5.   -Mutia- said:

    huahahahha…
    lelaki kabut yang sedang kalut menunggu waktu untuk turun ke bumi..sebab langit nampaknya belum juga menurunkan SK untuk menjejak sedang hati sang lelaki kabut terus bergelut dalam kalut hingga kusut….
    huehehehehe….

  6.   Wiwied said:

    Gpp lip.
    Biar gay, kan sing penting nduwe wedok.
    Hahaha…

Leave a Reply