Bercakap dengan Bulan

January 19, 2006

-

tidak biasanya
malam ini Bulan turun perlahan
sesekali sinarnya
membelai lembut riak - riak telaga

-

kepadanya aku berkata:
"bolehkan aku menyampaikan cerita"
"tentang pelangi di selatan sana"

-

Bulan tersenyum

-

"tuan…."
"hari ini pelangi bertanya"
"tentang makna yang ditulis sang pena"
"dan kenapa baru sekarang aku kagumi indah warnanya"

-

hening sejenak…

-

"Apa yang kau jawab?" kata Bulan

-

"tuan…."
"Aku hanya membisu di depannya"

-

"demi malam yang menghadirkan mimpi"
"dan demi fajar yang menghadirkannya kembali"
"sungguh, aku tak tahu banyak tentang pelangi"
"tentang kemilau warna dan peri - peri di sekelilingnya"

-

"tapi, tuan…"
"aku ingin sekali berhadap dekat"
"meski tak mudah melisankan"
"dan tak pernah cukup kata menjadi penjelas tanya"
"cukup sinarnya menghujam ke dada"
"biar dia temukan disana"
"sang hati sedang bercerita dengan riangnya"

-

-

dari ujung utara bumi,…….
alif, 19012006, 17.18

-
(cross-posted in my blog here)

4 Responses to “Bercakap dengan Bulan”

  1.   Vitria said:

    saya mo jadi pelangiiii…..hehehe…hihihi…huhuhu…
    - maap, lg sedikit error gara2 mumet nyari batere remote alarm ‘plus puyeng bikin notes to financial statement…

  2.   Rifi said:

    Sebenernya ga niat komentar, abis ga ngerti :p
    Tapiiii…setelah melihat komen pertama….jadi pengen komentarrr….uhuuuyyy…..siapa yang mau jadi pelangiii????hihihi….

  3.   Vitria said:

    kamu hrs liat dr sisi orng narsis dong mba. Pelangi itu kan indah, enak dipandang, selalu muncul setelah badai reda…(buat yg punya blog, maap yaa..saya numpang berdebat di blog sampeyan. Hehehe..)

  4.   Rifi said:

    (maap lagi ya yang punya blog..hihihi…)
    Iya neng, itu dari sisi narsis, nah sekarang badai ama pelanginya ada di mana dulu…hayooo…masa iya pelanginya segitu narsis sampe keliatan dari mana2… huahaha…ampun..ampun…

Leave a Reply